-->

Penjelasan tantang Zakat Fitrah

Penjelasan tantang Zakat Fitrah
Zakat fitrah adalah sejumlah harta yang wajib dikeluarkan oleh orang mukalaf dan orang yang wajib dinafkahinya dengan kadar tertentu ketika terberamnya matahari pada akhir bulan Ramadan dengan syarat-svara tertentu.

Waktu Pelaksanaan Zakat Fitrah

Waktu mengeluarkan zakat fitrah terbagi menjadi lima:
  1. Waktu jawaz | saat memasuki awal (tanggal satu) bulan Ramadan.
  2. Waktu wajib | ketika memasuki bulan Syawal (waktu Magrib hari terakhir bulan Ramadan).
  3. Waktu fadhilah | antara terbitnya fajar hari raya Idulfitri sampai dilaksanakannya salat Id.
  4. Waktu makruh | setelah melaksanakn salat Id hingga terbenamnya matahari.
  5. Waktu haram | menundanya sampai usainya hari raya Idulfitri (terbenamnya mata hari).

Syarat-syarat zakat fitrah

Untuk kewajiban zakat fitrah ada tiga syarat:
  1. Islam
  2. Terbenarnya matahari di akhir bulan Ramadan
  3. Adanya harta yang lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya sendiri atau keluarganya pada hari rava Idulfitri dan malamnya, tempat tinggal yang layak dan pembantu (jika memang dibutuhkan).
Orang yang zakatnya wajib dikelularkan adalah ketika sudah memenuhi ketiga syarat zakat fitrah di atas, bagi dirinya sendiri, orang yang wajib dinafkahi seperti anak, orang tua dan istrinya.
Sedangkan mengeluarkan zakat bagi anak yang sudah baligh dan mampu bekerja tidak wajib, begitu juga kerabat yang tidak ada tuntutan untuk menafkahinya.
Zakat yang wajib dikelularkan dari zakat fitrah adalah 1 sha' (sekitar 2,75 gram) dari makanan pokok yang umum dikonsumsi di daerahnya.

Golongan yang Berhak Menerima Zakat

Golongan yang berhak menerima zakat ada delapan, sebagaimana firman Allah Swt dalam surah At-Taubah (9) ayat 60:
۞ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 60)
  1. Fakir | orang yang tidak memiliki harta dan pekerjaan layak yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, berupa makanan, pakaian, serta tempat tinggal.
  2. Orang miskin | orang yang memiliki harta atau pekerjaan layak yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya akan tetapi tidak mencukupinya.
  3. Amil zakat | adalah orang yang diangkat oleh imam (pemerintah) sebagai pihak yang berkuasa penuh untuk mengambil dan mendistribusikan zakat kepada penerimanya.
  4. Muallaf | orang-orang yang baru saja memeluk agama Islam akan tetapi niatannya masih lemah, Adanya pemberian zakat tersebut sebagai bentuk simpati padanya, agar imannya lebih kuat Atau orang yang mempunyai tekad kuat dalam memeluk agama Islam namun ia termasuk orang terhormat di kalangannya, sehingga diharapkan akan diikuti orang-orang di kalangan tersebut.
  5. Budak mukatab | budak yang melakukan akad kitabah (akad untuk memerdekakan budak dengan cara membayar tebusan kepada majikannya dengan cicilan).
  6. Gharim (orang yang mempunyai hutang) | orang yang berhutang dengan tujuan bukan untuk perbuatan maksiat, Gharim terbagi menjadi empat: 1). orang yang berhutang untuk mendamaikan dua kelombok yang berseteru. 2). orang yang berhutang untuk menjamu tamu, membagun masjid atau untuk kemashlahatan umum. 3). orang yang berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. 4). orang yang berhutang untuk digunakan sebagai jaminan.
  7. Sabilillah | orang yang berperang tanpa adanya gaji dari pemerintah, akan tetapi memang benar-benar berjuang di jalan Allah (relawan perang).
  8. Ibn as-sabil (musafir) | orang yang melakukan perjalanan vang tidak memiliki nafkah untuk sampai ke daerah asalnva. Dengan syarat perjalanannya tidak bertujuan maksiat dan keadaannya memang benar-benar membutuhkan.

Hikmah Disyariatkannya Zakat

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang berbeda dari empat rukun lainnva. Sebab, jika pada rukun-rukun Islam lainnva vang tampak hanyalah ritual peribadatan hamba kepada tuhannva (habl min Allah), maka yang tampak pada ibadah zakat adalah rasa kepedulian dan saling mengasihi sesama makhluk ciptaan Allah Swt (habl Mint an-nas). Oleh karena itu zakat memiliki banyak sekali hikmah yang berkaitan dengan hubungan antar sesama manusia.
Dalam agama Islam, tatanan atau aturan tentang harta berdasar atas pengakuan bahwa Allah Swt adalah Pemilik Hakiki alam semesta beserta isinya Dengan demikian, Allahlah yang berhak menentukan kehidupan makhluk-Nya, termasuk menentukan yang kaya dan yang miskin, sepenuhnya ada di bawah kekuasaan dan kebijaksanaar-Nya, Allah juga memilik hak tunggal dalam menentukan attran bagaimana harta-harta yang ada di tangan hamba-Nya harus dialokasikan dan digunakan diantara aturan itu adalah zakat.
Zakat diwajibkan pada harta-harta tertentu, Harta yang umumnya selalu berkerbang biak (hewan ternak) atau dikembangkan (emas, perak, dsb), Banyak orang yang kurang mengerti, menilai kewajiban Zakat menvusahkan bahkan bisa mendatangkan kemiskinan, karena mengurangi harta yang dimiliki, Padahal nisab zakat (jumlah harta benda minimum yang dikenakan zakat) tidak kecil, Artinya orang yang dikenakan beban kewajiban zakat oleh syariat adalah orang yang benar-benar hidup berkecukupan atau bahkan lebih dari cukup. Agar mudah dipahami, maka kami ajukan satu contoh: zakat kambing yang nisab minimumnya adalah 40 ekor. Melihat jumlah sebanyak itu, tentu tidak semua petemak kambing dikenakan kewajiban zakat. Hanya peternak kaya raya yang wajib mengeluarkan zakat kambingnya, sebab hanya peternak kaya raya yang memiliki 40 ekor kambing (nisab minimum) dipeternakannya. Lantas dari jumlah sebanyak itu yang wajib dikeluarkan hanyalah satu ekor saja.
Allah Swt mewajibkan zakat agar umat-Nya yang berkecukupan hendaknya bersyukur atas nikmat-Nya dengan menyisihkan sedikit hartanya untuk menutupi kebutuhan golongan yang sebaliknya: fakir-miskin. Allah Swt Maha Kuasa, Allah Swt bisa saja memberikan kakayaan kepada seluruh manusia sampai tidak ada si miskin, dan yang ada hanya si kaya, tetapi la berkehandak lain. Dengan menjadikan sekelompok kaya raya dan sekelompok yang lain miskin, Allah Swt hendak mengetahui dengan jelas ('ilm zhuhur / musyahadah) bagaimana sikap hamba-hambanya yang mendapat kekayaan melimpah ketika melihat orang-orang disekelilingnya dalam keadaan sebaliknva, Apakah mereka akan sombong, tidak mau tahu dan tidak peduli atau sebaliknya mereka akan iba, bersyukur atas apa yang mereka miliki, dan mau berbagi kepada sesamanya yang membutuhkan. dan, bagaimana pula Sikap hamba-hamba-Nya yang kehidupannya serba kekurangan ketika melihat banyak orang disekitarnya hidup bergelimang harta. Apa mereka akan iri hati, merasa hidup ini tidak adil, dan menghalalkan segala cara untuk mentari kekayaan, atau mereka justru termotivasi agar kehidupannya semakin mapan, mau mererima apa yang sudah menjadi bagiannya (qania'ah), dan sadar serta yakin bahwa Allah Swt selalu adil dan bijaksana didalam segala kehendak-Nya.

Video Penejelasan Zakat oleh Gus Baha

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar