-->

Niat Puasa Ramadhan beserta Artinya

Niat Puasa Ramadhan

Ketentuan Niat Puasa Ramadhan

Dalam ibadah puasa Ramadhan, Niat merupakan rukun / fardu puasa. Niat harus dilaksanakan setiap malam hari selama berpuasa, dalam pelaksanaannya cukup dilakukan didałam hati sedangkan melafalkan niat itu hukumnya sunah. Para ulama telah memberikan beberapa syarat berkenaan dengan niat agar niat puasa yang dijalankan menjadi sah dan sempurna. Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, mengatakan bahwa syarat niat puasa Ramadhan ada empat:
  • Niat puasa Ramadhan dan puasa fardu lainya seperti puasa nadzar, membayar kafarat ataupun puasa yang diperintahkan oleh imam ketika akan melaksanakan salat Istisqa' disyaratkan Tabyitun niyah, yaitu melakukan niat di malam hari antara terbenam matahari hingga terbit fajar. Jika melakukan niat puasa di waktu siang setelah waktu shubuh, maka niatnya dinilai tidak sah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.
مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ
Artinya: Barangsiapa tidak berniat puasa di malam hari sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.
  • Menentukan jenis puasa yang akan dilaksanakan Ta’yinun niah. misalnya menentukan niat puasa Ramadhan, nazar atau kafarat. dengan cara setiap malam berniat, bahwa besok akan melakukan puasa ramadhan, nadżar atau kafarat.
  • Memutlakkan niat, Maksudnya disini adalah niatnya hanya dikhususkan untuk puasa ramadhan saja, bukan untuk puasa selain ramadhan seperti puasa nadzar atau kafarat. misalnya, jika ada seseorang melakukan niat untuk puasa ramadhan, namun jika besok melakukan perjalanan keluar kota maka niat berubah untuk puasa nadzar, model niat yang demikian itu tidak sah karena tidak memutlakkan niat untuk puasa ramadhan saja.
  • Niat harus dilaksanakan setiap malam hari selama selama berpuasa. karena setiap hari selama berpuasa merupakan ibadah mustaqillah (independen), yang tidak bisa dikaitkan dengan ibadah hari sebelumnya atau setelahnya. Oleh karena itu, menggabungkan niat hanya dimalam pertama bulan Ramadhan untuk keseluruahan puasa selama sebulan penuh dinilai tidak mencukupi.
Muhimmah
Mayoritas ulama ahli fikih berpendapat, bahwa niat puasa ramadhan harus dilaksanakan setiap malam selama bulan ramadhan. Namun seyogyannya untuk berhati-hati juga melakukan niat berpuasa satu bulan penuh diawal bulan Ramadhan agar supaya puasanya tetap sah apabila terjadi lupa niat di malam hari. Menurut Madzhab Malikiyah, diperbolehkan melakukan niat puasa Ramadhan setiap malam, namun juga boleh melakukan niat untuk satu bulan penuh diawal ramadhan sekaligus dengan tujuan ihthiyat berhati-hati. Didalam kitab Al Bajuri juz 1 hlm 429 dijelaskan bahwa:

وعند الإمام مالك أنه يكفي نية صوم جميع الشهر في أول ليلة منه وللشافعي تقليده في ذلك لئلا ينسى النية في ليلة فيحتاج للقضاء
Artinya: Menurut Imam Malik diperbolehkan puasa satu bulan hanya dengan niat satu kali pada malam pertama ramadhan, dan bagi madzhab Syafi’iyyah boleh mengikuti (taklid) terhadap pendapat tersebut agar ketika suatu hari lupa melakukan niat maka tetap berpuasa dan tidak wajib mengqadhanya.
Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA. menjelaskan bahwa pendapat yang memperbolehkan niat sudah mencukupi dilakukan diawal ramadhan didasari atas pemahaman, bahwa kewajiban puasa Ramadhan itu sebulan penuh, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 185, yang menegaskan:
…karena itu barangsiapa di antara kamu yang menyaksikan datangnya bulan Ramadhan, maka berpuasalah…
Menurut Mazhab Malikiyah bulan Ramadhan adalah nama suatu bulan, walaupun didalam suatu bulan tersebut terdiri dari beberapa hari tetapi tetap merupakan suatu kesatuan tunggal, yakni satu bulan, sehingga niat untuk puasanya pun cukup satu kali di awal bulan. Sama seperti halnya menjalankan shalat Shubuh misalnya, walaupun terdiri dari dua (2) rakaat tetapi tetap merupakan satu kesatuan shalat, dengan cukup satu kali niat di awalnya. Contoh lain misalnya ibadah haji, walaupun terdiri dari beberapa rangkaian rukun dan wajib haji tetapi juga tetap merupakan satu kesatuan ibadah yang disebut haji dengan cukup satu kali niat haji di awalnya.

ويسن لمن نسي في رمضان حتى طلع الفجر ان ينوي أول النهار لأنه يجزئن عند ابي حنيفة قال في الايعاب هو ظاهر ان قلده والا فهو متلبس بعبادة فاسدة فى عقيدته وهو حرام انتهى
Namun perlu diketahui, bahwa keberhasilan puasa dałam hal ini adalah bagi orang yang bertaklid kepada Imam Malik atau kepada Imam Abu Hanifah jika tidak, maka berarti mencampur-adukkan ibadah dan yang demikian itu adalah hukumnya tidak boleh.

Redaksi Lafal Niat Puasa Ramadhan

Berikut ini adalah beberapa redaksi pelafalan niat berpuasa Ramadhan:
  • dikutip dari KitabI'anatut Thalibin
نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ
Nawaitu shauma Ramadhana
Artinya: Aku berniat puasa bulan Ramadhan
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ/عَنْ رَمَضَانَ
Nawaitu shauma ghadin min / 'an Ramadhana
Artinya:Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan
  • dikutip dari Kitab Minhajut Thalibin dan Perukunan Melayu
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta'ala
Artinya: Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta'ala
  • dikutip dari Kitab Asnal Mathalib
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanata lillahi ta'ala
Artinya: Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala
  • dikutip dari Kitab Hasyiyatul Jamal dan Kitab Irsyadul Anam
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i fardhi syahri Ramadhani hadzihis sanati lillahi ta'ala
Artinya: Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala
Perbedaan redaksi pelafalan ini tidak mengubah substansi lafal niat puasa Ramadhan sebagaimana penjelasan yang telah disebutkan diatas.
Sumber Rujukan
  1. Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA
  2. Gerbang Fikih, Lirboyo
  3. Al-Bajuri
  4. Fathul Mu’in ma’a Hasyiah I’anatut Tholibin
  5. Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu
  6. Nu Online

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar